Pangkah merupakan nama desa yang berada di wilayah kecamatan Ujungpangkah, kecamatan paling utara wilayah kabupaten Gresik. Wilayah Pangkah berada di pantai utara Pulau Jawa. Pangkah sejak tempo dulu mempunyai fungsi yang sangat strategis baik dalam bidang perdagangan maupun dalam bidang keagamaan.

Pantai Pangkah dulu menjadi pelabuhan bagi para pedangan yang berasal dari luar pulau maupun pedagang dari mancanegara. Begitu juga, tempo dulu pelabuhan Pangkah dijadikan sebagai pangkalan para penyebar agama Islam di pulau Jawa, khusunya di Jawa Timur. Sebagai salah satu bukti bahwa Pangkah tempo dulu sebagai pelabuhan yang amat penting peranannya adalah masih adanya bukti sejarah berupa bangkai kapal Belanda. Bangkai kapal itu menjadi saksi bisu keberadaan pelabuhan Pangkah. Cerobong bangkai kapal itu hingga kini masih dapat disaksikan.
Pangkah yang dijadikan sebagai nama desa itu merupakan akronim. Kata Pangkah berasal dari kata pang dan Mekkah. Kata pang berasal dari bahasa Jawa yang berarti cabang, sedangkan Mekkah adalah nama kota yang berada di Saudi Arabia. Dari nama itu dapat dilihat adanya hubungan yang erat antara Pangkah dengan Mekkah, sebagaimana kota Aceh yang dikenal dengan panggilan kota Serambi Mekkah. Aceh dalam sejarah penyebaran agama Islam memang dijadikan sebagai pintu masuk bagi penyebar agama Islam di pulau Sumatera. Begitu juga dengan nama Pangkah yang dikaitkan dengan nama kota suci Mekkah.

Tempo dulu Pangkah merupakan wilayah yang dianggap angker, wingit. Tidak seorang pun yang berani tinggal di wilayah Pangkah. Pangkah dikenal sebagai wilayah gong liwang liwong, karena Pangkah masih jalma mara jalma mati. Setiap ada orang yang mencoba tinggal di Pangkah orang itu tidak pernah kembali dan tidak ada kabar beritanya. Oleh karena itu, Pangkah dianggap sebagai daerah larangan. Orang-orang sekitar wilayah Pangkah tidak ada yang berani memasuki wilayah Pangkah. Mengapa Pangkah dikenal sebagai wilayah yang angker? Menurut penuturan leluhur Pangkah karena Pangkah dijadikan sebagai tempat pengasingan bagi makhluk gaib yang berada di wilayah Jawa Dwipa atau pula Jawa akibat tumbal kalimasodo yang dipasang oleh Syekh Subakir, anggota Wali Songo periode pertama, untuk menundukkan makhluk gaib di pulau Jawa yang selalu mengganggu.

Suatu saat datang seorang pengembara yang dikenal oleh orang Pangkah dengan nama Jeniko atau Ki Ageng Jumika. Jumiko dipercaya sebagai satu-satunya orang pertama yang mampu tinggal di Pangkah. Jeniko tinggal di Pangkah hingga beranak pinak. Untuk menyelamatkan keluarganya dari gangguan makhluk gaib Jeniko mengikuti jejak Syekh Subakir dengan memasang tumbal atau jimat di empat pojok desa Pangkah dan satu berada di tengah-tengah desa. Jimat itu dikenal dengan nama Jimat Poncopat. Poncopat dari kata ponco dan pat. Ponco dari kata panca yang artinya lima dana pat dari kata papat (Jawa) yang artinya empat. Dinamai Poncopat karena jimat itu berjumlah lima dan diletakkan di empat pojok desa.

Sepeninggal Jeniko, Pangkah mengalami kefakuman kepemimpinan hingga beberapa puluh tahun. Baru sekitar tahun 1500-an masehi, Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban datang di Pangkah untuk menyebarkan agama Islam. Menurut buku Asal Usul Orang Pangkah yang ditulis oleh Syekh Muridin, keturunan kelima Sunan Bonang, Jayeng Katon datang pertama kali dan tinggal di Koang, salah satu pedukuan di desa Kebuagung kecamatan Ujungpangkah, Situs peninggalan Jayeng Katon di Koang sampai sekarang masih dapat ditemukan yaitu berupa sumur dan pondasi pondoknya Namun, karena merasa kurang cocok untuk perkembangan penyebaran agama Islam ke depan, akhirnya Jayeng Katon berpindah di Pangkah.

Di Pangkah Jayeng Katong ditemani adiknya yang bernama Jayeng Rono, juga Pendel Wesi putra pertamanya. Di Pangkah Jayeng Katon mendirikan rumah di tepi pantai. Rumah tinggal Jayeng Katon juga difungsikan sebagai tempat untuk mengajarkan agama Islam. Rumah itu akhirnya dikenal sebagai Pondok Pangkah. Perkembangan Pondok Pangkah sangat pesat sehingga menggugah hati Sunan Bonang ayahanda Jayeng Katon mengutus Kyai Mskiriman untuk mengirimkan kayu jati sebagai bahan pedirian masjid. Berkat kiriman kayu dari Sonan Bonang itu berdirilah sebuah masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jamik Pangkah. Kini, masjid itu bernama Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah.

Ketika Jayeng Katon datang di Pangkah, Nyai Jika (istri Jayeng Katon) sedang melaksanakan ibadah haji di kota suci Mekkah. Nyia Jika, nama panggilan istri Jayeng Katon, sepulang dari Mekkah atas petunjuk Sunan Bonang mengikuti jejak suaminya ke Pangkah. Nyai Jika adalah putri saudagar kaya raya di kota Mekkah.

Pasangan suami istri Jayeng Katon dan Nyia Jika sama-sama berasal dari keturunan orang-orang Mekkah. Oleh karena itu, keturunan Jayeng Katon dan Nyai Jika disebut orang Pangkah karena keturunan orang Pangkah berasal dari orang dari Mekkah. Berarti orang Pangkah cabang atau pang orang Mekkah.

Pada zaman penjajahan Belanda, Pangkah masih menjadi satu wilayah administratif sebagai satu desa. Namun, dengan perkembangan penduduk yang pesat dan pembukaan lahan-lahan garapan penduduk yang semakin melebar, menjelang berakhirnya penjajahan Belanda, Pangkah dibagi menjadi dua desa, yaitu Deda Pangkahwetan dan Desa Pangkahkulon. Desa Pangkah dijadikan sebagai ibu kota kecamatan dengan nama Ujungpangkah.

Orang Pangkah sebagai keturunan orang Mekkah semakin sempurna dengan adanya kurma yang hidup dengan subur di halaman dan kuburan Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah. Dari enam pohon kurma yang ada, sudah ada dua pohon yang sudah berbuah sekitar bulan Maret 2009/ Rabiul Awal 1430 yang lalu. Banyak yang tidak percaya bahwa pohon kurma itu berbuah. Namun, setelah menyaksikan sendiri, mereka baru percaya. Berita itu tersebar dari mulut ke mulut sehingga menjadi iklan gratis. Tanpa harus mengeluarkan beaya berita itu tersebar luas. Bahkan, sudah ada masyarakat yang datang meminta biji kurma itu untuk obat penyakit bagi keluarganya yang sakit.

Pohon kurma tersebut hasil pembibitan yang dilakukan oleh Bapak H. Ahmad Jazim dari kurma yang dibawa sepulang dari melaksanakan ibadah haji pada tahun 1999. Bapak H. Ahmad Jazim adalah termasuk orang yang lama menjadi Takmir Masjid Ainul Yaqin Ujungpangkah. Kini beliau sebagai salah seorang anggota Penasihat Masjid Jamik Ainul Yaqin. Disamping beliau aktif sebagai Takmir Masjid, beliau juga seorang Purnawirawan TNI yang pernah ditugaskan di Palembang dan Maluku. Atas jasa beliau, ikon Pangkah sebagai cabang atau keturunan Mekkah semakin melekat di hati generasi muda Ujungpangkah.

Sumber